Lintas Media
[the_ad id="864"]
  • Login
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
Indeks
Lintas Media
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
Lintas Media
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
Home Artikel

Menyusuri Jejak Sang Singa Betina: Menyelami Atmosfer Heroik di Makam Cut Meutia, Hulu Aceh Utara

15 Oktober 2026
Reading Time: 4 mins read
A A
Menyusuri Jejak Sang Singa Betina: Menyelami Atmosfer Heroik di Makam Cut Meutia, Hulu Aceh Utara

15 Oktober 2026

BeritaTerkait

Temui Gubernur URI, Ayahwa Pastikan Aceh Utara Prioritas Sekolah Unggulan Garuda

Sentuhan Ketua PKK Aceh Utara: Ny. Musliana Ismail Salurkan Bantuan Sembako dan Renovasi Rumah Warga

Bupati Aceh Utara Ayah Wa Kembali Serahkan Data Susulan Stimulan Rumah dan Bansos ke Satgas PRR

Oleh: Zulfadli Kawom

Dedaunan kering berkerisik menyambut setiap langkah kaki yang menapak kian dalam ke jantung hutan lindung Pasai. Udara dingin khas pedalaman perbukitan Aceh Utara perlahan menyergap, membawa aroma tanah basah dan kesunyian yang magis. Di sinilah, jauh dari bising perkotaan, bersemayam jasad seorang pahlawan perempuan legendaris: Cut Meutia.

Menuju ke makam Cut Meutia yang terletak di kawasan Alue Kurieng, Kecamatan Pirak Timur, Aceh Utara, bukanlah sebuah perjalanan rekreasi biasa. Ini adalah sebuah ziarah melintasi waktu, sebuah pembuktian ketangguhan fisik dan mental yang seolah merefleksikan beratnya perjuangan sang pahlawan di masa lalu.

Menembus Belantara, Meresapi Perjuangan

Bagi para peziarah yang berniat sampai ke titik ini, perjalanan harus dimulai dengan mengendarai kendaraan roda dua atau mobil gardan ganda menembus jalur tanah, berbatu, dan kerap berlumpur. Tak jarang, aliran sungai kecil harus diarungi. Setelah kendaraan tak lagi bisa maju, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki mendaki perbukitan selama berjam-jam di bawah naungan kanopi hutan yang rapat.

Rasa lelah yang mendera di sepanjang jalur pendakian seolah menjadi simulator kecil untuk membayangkan bagaimana Cut Meutia bersama pasukannya bergerak lincah dari satu pos persembunyian ke pos lain, menghindari kejaran serdadu Marsose Belanda pada awal abad ke-20. Setiap tanjakan curam yang menguras napas adalah saksi bisu betapa gigihnya perlawanan yang dikorbankan demi tanah para syuhada.

Kesunyian yang Berbicara

Begitu menapakkan kaki di area pemakaman, atmosfer seketika berubah. Rasa lelah berangsur luruh, digantikan oleh takjub yang khidmat. Kompleks makam ini berdiri bersahaja di tengah rimbunnya pohon-pohon raksasa yang usianya mungkin telah ratusan tahun.

Atmosfer di sekitar makam terasa begitu berwibawa namun menenteramkan:

  • Hening yang Absolut: Hanya ada suara desau angin yang mempermainkan pucuk pepohonan dan sesekali cicit burung hutan. Sunyi ini justru terasa “berbicara”, menegaskan status tempat ini sebagai zona sakral.
  • Aura Keteguhan: Batu nisan yang terpancang kokoh memancarkan energi keteguhan. Di sinilah, pada 24 Oktober 1910, sang singa betina Aceh gugur setelah menerjang peluru demi mempertahankan prinsipnya: tidak akan pernah tunduk pada kompeni.
  • Nostalgia Heroik: Berdiri di samping makamnya memicu imajinasi kolektif tentang pekik takbir dan denting kelewang yang dulu pernah mengguncang hutan ini.

Magnet Jiwa yang Terpencil

Meskipun letak makam ini berada di pedalaman hutan yang sulit dijangkau, tempat ini tidak pernah benar-benar kesepian. Secara berkala, kelompok pencinta alam, sejarawan, unsur TNI-Polri, hingga masyarakat umum melakukan ekspedisi ziarah ke tempat ini.

Bagi mereka yang datang, atmosfer makam Cut Meutia bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Hutan Pasai dan makam di dalamnya adalah sebuah monumen hidup—tempat di mana siapa saja yang berkunjung akan pulang membawa sisa-sisa semangat nasionalisme, langsung dari hulu sejarahnya.

Amarah dan Darah di Alue Kurieng

Atmosfer sunyi yang kini melingkupi makam berakar dari sebuah fragmen sejarah yang amat berdarah. Di sinilah, tepat pada 24 Oktober 1910, Alue Kurieng menjadi saksi kepungan terakhir kolonial Belanda terhadap sang pahlawan.

Setelah suaminya, Pang Nanggroe, gugur sebulan sebelumnya, Cut Meutia menolak menyerah. Ia mengambil alih komando sisa pasukan dan bergerak mundur jauh ke dalam belantara hulu Krueng Peutoe. Namun, pelarian gerilya itu terendus oleh Korps Marsose (Marechausée) di bawah pimpinan patroli Sersan Mosselma.

Ketika posisi pasukannya terkepung rapat di bantaran anak sungai, Cut Meutia tidak memilih opsi mundur. Dengan rencong terhunus di tangan, perempuan berusia 40 tahun itu menerjang ke depan, menghadapi moncong-moncong senapan modern kompeni. Desing peluru memecah kesunyian rimba; tiga butir timah panas seketika bersarang di dada dan kepalanya, merubuhkan sang “Mutiara dari Pasai” ke atas tanah yang basah. Sebelum gugur, pesan terakhirnya begitu getir: memastikan keselamatan putranya, Teuku Raja Sabi, agar terus dibawa lari menjauh dari cengkeraman musuh.

Kesaksian dari Pemburu Jernang

Berabad-abad berlalu, aura pertempuran itu seolah belum sepenuhnya menguap dari tanah Alue Kurieng. Bagi para pencari hasil hutan lokal, wilayah di sekitar makam adalah area yang memancarkan rasa hormat sekaligus ketakutan mistis.

Samsul (42), seorang pencari jernang (resin buah rotan) asal Seureudang, Pirak Timur yang kerap keluar-masuk hutan lindung Gunung Lipeh, membagikan pengalamannya saat beristirahat di dekat area pemakaman:

“Kalau malam sudah turun di dekat Alue Kurieng, suasananya terasa sangat berbeda, tidak seperti bagian hutan yang lain,” ujar Samsul sembari membetulkan letak parangnya. “Bukan seram hantu, tapi seperti ada kewibawaan besar yang menjaga tempat ini. Kadang saat angin bertiup kencang menabrak daun-daun tua, kita seperti mendengar suara hentakan kaki atau gemerincing besi.”

Samsul bercerita, para pencari hasil hutan memiliki pantangan tidak tertulis saat berada di radius makam Cut Meutia. “Kami tidak boleh berbicara kasar atau berniat merusak alam di sini. Pernah suatu hari saya terlalu dekat ke arah hulu sungai tempat beliau gugur. Entah mengapa, bulu kuduk langsung meremang hebat, dan bau harum tanah mendadak sangat menyengat. Kami semua tahu, tanah ini adalah tempat suci para syuhada. Berada di sini membuat kami yang hanya orang kecil ini selalu ingat, merdekanya Aceh itu dibayar pakai nyawa”.(Alc)

 

ShareSendShareTweet

Related Posts

Temui Gubernur URI, Ayahwa Pastikan Aceh Utara Prioritas Sekolah Unggulan Garuda

Temui Gubernur URI, Ayahwa Pastikan Aceh Utara Prioritas Sekolah Unggulan Garuda

16 Oktober 2026
Sentuhan Ketua PKK Aceh Utara: Ny. Musliana Ismail Salurkan Bantuan Sembako dan Renovasi Rumah Warga

Sentuhan Ketua PKK Aceh Utara: Ny. Musliana Ismail Salurkan Bantuan Sembako dan Renovasi Rumah Warga

15 Oktober 2026
Bupati Aceh Utara Ayah Wa Kembali Serahkan Data Susulan Stimulan Rumah dan Bansos ke Satgas PRR

Bupati Aceh Utara Ayah Wa Kembali Serahkan Data Susulan Stimulan Rumah dan Bansos ke Satgas PRR

15 Oktober 2026
Sinergi Majukan Seniman Aceh Utara, Haji Uma Dukung Penuh Pelaksanaan Musda DKA

Sinergi Majukan Seniman Aceh Utara, Haji Uma Dukung Penuh Pelaksanaan Musda DKA

13 Oktober 2026
Terima Penghargaan JMSI, Pemkab Aceh Utara Ajak Insan Pers Jadi Mitra Kritis dan Edukatif

Terima Penghargaan JMSI, Pemkab Aceh Utara Ajak Insan Pers Jadi Mitra Kritis dan Edukatif

12 Oktober 2026
Bupati Aceh Utara “Ayahwa” Hadiri Peusijuek Anggota BPK RI Tgk Kaidir, Tegaskan Kebanggaan Masyarakat Aceh

Bupati Aceh Utara “Ayahwa” Hadiri Peusijuek Anggota BPK RI Tgk Kaidir, Tegaskan Kebanggaan Masyarakat Aceh

11 Oktober 2026
Next Post
Pemkab Aceh Utara Keluarkan Imbauan, Masyarakat Diharapkan Waspada Sebaran Dampak Kabut Asap

Pemkab Aceh Utara Keluarkan Imbauan, Masyarakat Diharapkan Waspada Sebaran Dampak Kabut Asap

Sentuhan Ketua PKK Aceh Utara: Ny. Musliana Ismail Salurkan Bantuan Sembako dan Renovasi Rumah Warga

Sentuhan Ketua PKK Aceh Utara: Ny. Musliana Ismail Salurkan Bantuan Sembako dan Renovasi Rumah Warga

  • Pedoman Media Siber

© 2026 Lintasmedia.co - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Javascript not detected. Javascript required for this site to function. Please enable it in your browser settings and refresh this page.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 Lintasmedia.co - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.