MUARA BATU — Di bawah langit pagi yang perlahan menyibak kabut pesisir Krueng Mane, Aceh Utara, seorang pria paruh baya berdiri kokoh bersama putranya di tepi rawa-rawa dekat saluran irigasi. Kedua tangannya sigap memegang galah panjang yang terhubung pada bilah-bilah bambu melengkung berbentuk silang. Di ujung struktur tersebut, sebentang jaring persegi tenggelam sunyi di balik ketenangan air lueng (anak sungai).
Bagi masyarakat pesisir Aceh Utara, aktivitas ini dikenal dengan istilah meuangkoi—sebuah tradisi menangkap ikan menggunakan angkoi, yaitu jaring angkat tradisional (lift net) yang serupa dengan anco atau branjang. Di tengah gempuran modernisasi alat tangkap, tradisi meuangkoi tetap bertahan sebagai simbol kemandirian dan keselarasan hidup masyarakat pesisir serta pedalaman Aceh dengan alam.
Sunyi yang Menghidupkan
Meuangkoi bukanlah tentang kapal besar atau jaring pukat yang membentang bermil-mil di samudra luas. Ini adalah seni membaca riak air tenang di kawasan rawa, tambak, dan anak sungai.
“Kuncinya ada pada kesabaran dan ketepatan momentum,” ujar Muhammad Yahya (50), seorang nelayan tradisional di kawasan Muara Batu, Aceh Utara.
Sebelum jaring diturunkan, sejumput umpan sederhana—biasanya dedak halus atau rebon—diletakkan tepat di tengah jaring. Begitu anyaman nilon tenggelam, sang nelayan akan menunggu dalam senyap. Ketika riak kecil mulai berkumpul pertanda kawanan ikan muara atau udang sedang berkumpul, dengan satu sentakan cepat dan bertenaga, galah bambu diungkit. Jaring terangkat horizontal ke permukaan, membawa gemercik perak ikan-ikan kecil yang terjebak.
Hasilnya mungkin tidak melimpah seperti tangkapan kapal modern, namun cukup untuk mengisi periuk nasi di dapur dan menyambung piring makan keluarga hari itu.
Merawat Harmoni, Menjaga Ekosistem
Di balik kesederhanaannya, meuangkoi membawa filosofi mendalam tentang kelestarian lingkungan. Berbeda dengan alat tangkap massal yang merusak, angkoi sangat selektif dan ramah ekosistem. Jaring ini hanya menyasar wilayah tepian tanpa merusak dasar sungai maupun mencemari perairan.
Melalui meuangkoi, alam tidak dieksploitasi, melainkan diajak berbagi. Nelayan tradisional Aceh hanya mengambil apa yang disediakan sungai untuk hari itu, menyisakan ruang bagi benih-benih ikan untuk tumbuh dan berkembang biak esok hari.
Bertahan di Arus Zaman
Di era modern, saat jaring pabrikan dan teknologi sonar mendominasi perikanan tangkap, aktivitas meuangkoi kian bergeser menjadi pemandangan langka. Tradisi ini sering kali hanya ditekuni oleh para tetua kampung atau menjadi kegiatan pengisi waktu luang warga gampong.
Namun, setiap kali jaring angkoi diangkat menantang matahari terbit, di sanalah detak sejarah dan ketangguhan budaya Aceh terus berdenyut. Ia adalah pengingat bahwa di tanah Serambi Mekkah, rezeki mengalir setenang aliran alue, bagi siapa saja yang mau merawat kesabaran di atas bilah-bilah bambu tradisi.[Alc]






